Monday, November 28, 2005

Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta dan ’Underground Structure’

DI tengah polemik soal rencana pembangunan lahan parkir di bawah Alun-alun Utara Yogya, Sri Sultan menegaskan bahwa parkir di bawah Alun-alun utara tidak menghilangkan nilai filosofi, karena yang punya nilai sejarah dan filosofi adalah bagian atas Alun-alun Utara. Bukannya bagian bawah tanah yang sedalam 15 meter.

Terlepas dari pro dan kontra masalah tersebut, orang bisa menduga lima, atau sepuluh tahun mendatang kepadatan lalu lintas, jumlah penduduk Yogya akan meningkat. Selain itu tidak mungkin mencegah produsen mobil agar menghentikan produksinya.

Selama ini sebagian kepadatan lalu lintas diatasi dengan jembatan layang. Tapi melihat apa yang dilakukan negara-negara industri maju seperti Amerika, Eropa, Jepang, bahkan Korea Selatan, pilihan banyak terarah ke bawah tanah. Sehingga muncul istilah subway dan lain-lainnya, dimana bawah tanah tak hanya dimanfaatkan sebagai lahan parkir atau pertokoan, tapi juga sebagai jalur angkutan kota, bahkan antarkota. Tak hanya itu, di Eropa juga dibangun terowongan di dalam laut untuk jalur kereta api.

Di Semarang, ketika muncul usulan untuk membangun gedung bertingkat sebagai lahan parkir yang kini menjadi lapangan Pancasila di Simpanglima, beberapa pakar menolak sembari mengatakan, akan lebih baik jika bangunan semacam itu dibuat di dalam tanah. Pasalnya, menjadikan Lapangan Pancasila sebagai gedung bertingkat akan membuat jalan yang melingkarinya menjadi sebuah lorong, maka lebih baik bikin bangunan di bawah tanah.

Investor mall terbesar dari Prancis, yakni ‘Continent’, juga pernah merencanakan membuat bangunan di bawah tanah di Simpanglima, namun rencana itu gagal dilaksanakan.

Di Indonesia jalur bawah tanah terkesan sebagai hal yang baru, karena selama lahan parkir bawah tanah masih terbatas pada mall-mall, atau hotel berbintang, yang terbukti memang efektif untuk mengurangi kepadatan lalu lintas dibanding parkir di halaman mall, hotel, atau di pinggir jalan umum. Padahal semasa penjajahan Belanda dan Jepang, kegiatan di bawah permukaan tanah sudah lazim, meski lebih banyak digunakan untuk pertahanan maupun gudang senjata dan amunisi.

Seandainya nanti Alun-alun Utara benar-benar akan digali untuk pembangunan lahan parkir bawah tanah maupun tempat perbelanjaan, maka Yogya akan menjadi kota pertama di Indonesia yang memberdayakan areal bawah tanah untuk kepentingan umum. Mungkin di bagian lain kota Yogya juga akan dibuat bangunan bawah tanah yang sering diistilahkan dengan ‘underground structure’.

Para pakar teknik kebanyakan berpandangan bahwa pada masa mendatang, bangunan bawah tanah merupakan alternatif yang mempunyai prospek cerah, karena potensi dan kondisi Indonesia banyak mendukung ke arah aktivitas tersebut. Namun, pekerjaan bawah tanah berisiko tinggi dari segi keselamatan, dan biayanya tinggi, baik pada saat pembuatannya maupun segi kemantapan lubang bukaan (underground opening) kalau nanti sudah jadi.

Untuk itu, dalam pembuatan bangunan bawah tanah, keterlibatan para tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu mulai tahapan rancangan awal sampai tahap konstruksi sangat penting. Jika pembangunan bawah tanah benar-benar dijadikan alternatif, maka para tenaga ahli profesional Indonesia yang berhubungan dengan berbagai proyek penggalian bawah tanah perlu dipersiapkan sebaik mungkin.

Di samping itu penentuan karakteristik, dan perilaku massa batuan semakin penting dengan pesatnya pembangunan struktur yang kompleks, baik di permukaan tanah maupun di bawah tanah.

Kalau pembuatan lahan parkir dan pertokoan di bawah Alun-alun Utara benar-benar terwujud, maka Yogya bisa menjadi proyek percontohan, dimana orang bisa menimba pengalaman teknik, hingga mengenal sarana dan prasarana pembangunan lahan parkir maupun pertokoan di bawah tanah sejak awal pembongkaran tanah hingga tahap akhir pembangunannya.

Namun jangan sampai pembangunan ruang parkir baru di bawah tanah akan membuat kawasan seantero Alun-alun Utara justru makin semrawut, karena adanya ruang parkir baru di bawah tanah bisa menarik minat orang untuk datang dengan menggunakan kendaraan pribadi setelah tersedia ruang parkir baru yang bisa digunakan secara nyaman. Dengan demikian perencanaan pembangunan lahan parkir dan pertokoan di bawah permukaan Alun-alun utara mau tak mau harus menyeluruh ke segala aspek.

Sumber: Kedaulatan Rakyat (www.kr.co.id)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home