Monday, November 28, 2005

Quo Vadis Yogyakarta

9 Juni 2005

TERUS terang, hingga hari ini, saya masih mendambakan bahwa Yogyakarta akan menjadi salah satu dari kota-kota legendaris dalam (sejarah) peradaban dan kebudayaan dunia. Tentu bukan kota-kota seperti New York, Los Angeles, Paris, Tokyo, dan sebagainya, pendek kata kota-kota yang identik dengan materialisme-hedonistik, melainkan kota-kota seperti Athena di Romawi Barat (kini, Roma, Italia), Konstantinopel di Romawi Timur (kini, Istambul, Turki), Byzantium (Eropa Barat), Aleksandria (kini, Al Iskandariyah, Mesir), Mesopotamia, Jundi Syapur, Samarkand, Baghdad, Damaskus, Kairo Fez, Cordoba, dan Khurasan.

Dimana keagungan dan kemegahan sebuah kota diukur bukan berdasarkan materialisme, hedonisme, pasar, pertokoan, mall, atau pun hiburan malam, melainkan didasarkan dengan penuh harga diri dan kebanggaan pada ilmu pengetahuan, agama, seni, sastra, hikmah, dan keadilan.

Bagaimana kota-kota kuno yang masih agung di hati umat manusia sepanjang sejarah itu memberikan kontribusinya bagi peradaban dan kebudayaan dunia? Henry S Lucas menulis dalam sebuah bukunya A Short History of Civilization, bahwa agama Kristen — sebagaimana terejawantah ke dalam Gereja Kristen — telah membentuk watak kehidupan moral dan gagasan-gagasan ideal dari umat Kristen. Gerejalah pembawa gagasan-gagasan filosofis Yunani dan Romawi Kuno.

Ilmu pengetahuan Yunani, lanjut Henry, masih terus berlanjut di Abad Pertengahan dan bahkan kemudian menjadi landasan bangunan besar ilmu pengetahuan modern. Begitu pun dalam seni sastra dan pendidikan, peradaban Yunani-Romawi juga memberikan sumbangan yang abadi. Gagasan-gagasan tentang pendidikan, sebagaimana terwujud dalam trivium dan quadrivium, masih tetap bertahan sebagai inti dasar gaya pendidikan liberal modern.

Abad-abad berikutnya, tak terbantahkan, agama Islam telah memberikan sumbangan sangat berharga bagi peradaban dan kebudayaan dunia. Kepemimpinan Arab, tulis Henry, berlangsung dari abad VIII hingga awal abad XIV. Selama enam abad itu peradaban Eropa Barat sangat berutang pada kaum Muslim, yang memiliki banyak segi kebudayaan yang lebih tinggi.

Selain Henry S Lucas maupun banyak peneliti Barat lainnya yang mengungkapkan dengan jernih konstribusi besar yang diberikan Islam bagi peradaban dan kebudayaan dunia, peneliti kenamaan dari Pakistan, Ziauddin Sardar, dalam bukunya Information and the Muslim World, menemukan bahwa tepat seratus tahun setelah datangnya Islam, industri buku telah mengalami kemajuan pesat, sehingga kaum Muslimin menjadi “ahli al-kitab” dalam arti sebenar-benarnya; dalam membaca-bukan saja Alquran, menjadi satu kesibukan utama.

Hampir semua dinasti, dari Khalifah Umayyah dan Abbasiah, sampai Bani Umayyah di Spanyol, Fatimiah di Mesir, Hamdaniah di Aleppo, Buwaihiah di Persia, Samaniah di Bukhara, para pengusaha Ghaznawiah dan Mongol di India, semuanya mendirikan perpustakaan-perpustakaan besar di masing-masing pusat pemerintahan mereka.

Karena dianggap sebagai amanat dari Allah, maka perpustakaan-perpustakaan pusat sepenuhnya dapat dipergunakan oleh masyarakat umum secara gratis. Kebanyakan perpustakaan ini, seperti yang berada di Syiraz, Kairo dan Cordoba ditempatkan di gedung-gedung yang dirancang secara khusus untuk itu, dengan banyak ruangan untuk berbagai tujuan, galeri-galeri dengan rak-rak buku, ruangan-ruangan di mana para pengunjung dapat duduk sambil membaca buku, dan ruangan-ruangan untuk kuliah-kuliah dan perdebatan-perdebatan umum, termasuk — dalam hal-hal tertentu, ruangan-ruangan untuk hiburan musikal. Semua ruangan itu berpermadani dan berlapik, sehingga para pembaca dapat duduk di atasnya. Gorden-gordennya menciptakan suasana menyenangkan dengan pengaturan ruangan menciptakan suhu sedemikian sejuk dan harmoni.

Lalu, bagaimana dengan Yogyakarta? Quo vadis Yogyakarta? Apakah juga akan mengalami kemandegan dan dekadensi dalam peradaban dan kebudayaan sebagaimana kota-kota (bersejarah) lainnya di Indonesia? Ah, itu tidak mungkin. Kita masih memiliki Sultan, figur anggun dan berwibawa yang tidak mungkin mengorbankan harga diri dan kehormatan. Kasultanan serta daerahnya hanya untuk menuruti hedonisme serta keriuhan materi belaka. Yogyakarta juga masih memiliki kerabat keraton yang amat sangat peduli dengan kebudayaan dalam maknanya yang paling genuine. Di Yogyakarta juga masih berdiri dengan penuh wibawa universitas-universitas, perguruan tinggi, sekolahan-sekolahan, perpustakaan-perpustakaan, rumah-rumah ibadah, tempat-tempat bersejarah, juga terutama masih memiliki tokoh-tokoh maupun orang-orang biasa yang memiliki kearifan terhadap masa depan kemanusiaan, peradaban, serta kebudayaan. Yogyakarta pun masih cukup banyak memiliki kaum pendidik, ulama, seniman, sastrawan, musikus, intelektual, jurnalis, dan bahkan — meski kurang diurusi — Yogyakarta terhitung sebagai kota yang paling banyak memiliki penerbit dan toko-toko buku.

Tetapi, apa hubungannya semuanya itu dengan rencana pembangunan parkir bawah tanah di alun-alun utara keraton Yogyakarta? Bukankah tempat parkir yang luas pun penting bagi kota ini, apalagi banyak wisatawan dari dalam maupun luar negeri yang datang berombong-rombongan ke kota ini?

Baiklah, menurut hemat saya, wisatawan yang berkunjung ke Yogya. Pertama, pastilah tak hendak melewatkan mengunjungi keraton Yogyakarta. Jangankan mereka yang memang punya maksud berwisata, sedangkan orang biasa saja, dan ini nyata, yakni beberapa orang, dari Madura yang mengunjungi anaknya yang kuliah di Yogya, tak hendak pulang kembali ke Madura sebelum melihat secara langsung keraton Yogyakarta, kok? Dan kedua, berbangun dan menata diri dalam akal budi serta kebeningan nurani, dimana hal ini tercermin dari penanda-penanda peradaban dan kebudayaan, sebagaimana tercermin dari kota-kota kuno yang berwibawa di atas, itu jauh lebih berkesan dan berarti bagi orang-orang yang berkunjung ke Yogyakarta.

Memang, zaman telah berubah. Kebutuhan gengsi dan materi pun bertambah-tambah. Di dalam pusaran kapitalisme seperti sekarang ini, hanya orang-orang yang “kuat terjaga dan terjaga kuat” yang tak tergilas dan tak tergerus oleh derasnya. Maka, tiba-tiba, saya jadi rindu kepada sosok Sultan Agung Hanyokrokusumo, yang betul-betul agung dalam prinsip dan kepribadiannya. Dan sungguh, saya amat kangen dan ingin rasanya sungkem, apabila Sultan Hamengku Buwono IX yang santun, rendah hati dan sederhana itu, pemimpin serta pahlawan yang andap asor dan merakyat itu, kembali hadir di tengah-tengah kita, membenahi dan membangun peradaban serta kebudayaan Yogyakarta. q - o

Oleh: Zainal Arifin Thoha, Dosen UPT MKU Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)dan Direktur Pusat Studi Agama dan Kebudayaan (Pusaka) Yogyakarta.

Sumber: Kedaulatan Rakyat (www.kr.co.id)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home