Monday, March 13, 2006

Heru Sutomo: Becak Tak Bisa Dipisahkan dari Pariwisata

14 Februari 2006

YOGYA (KR) - Maraknya persaingan dalam industri pariwisata perlu mendapatkan perhatian yang serius dari berbagi pihak termasuk pengelola jasa wisata. Keberadaan becak sebagai alat transportasi tradisional tidak bisa dipisahkan dengan predikat Yogyakarta sebagai kota budaya. Jumlah becak yang tidak sebanding dengan penumpang secara tidak langsung memicu terjadinya persaingan yang tidak sehat. Akibatnya selain terjadi perang tarif, becak sering dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis perusahaan. Jika hal itu dibiarkan berlarut-larut selain wisatawan menjadi tidak nyaman, dikhawatirkan akan menimbulkan dampak negatif bagi dunia pariwisata khususnya DIY. Untuk mengatasi persoalan itu selain sikap proaktif dari pemerintah, tarif becak sebaiknya dipertegas. Dengan begitu selain pelayanan menjadi maksimal terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan akan bisa diminimalisir.


Hal itu dikemukakan oleh Kepala Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Dr Ir Heru Sutomo MSc pada KR diruang kerjanya Senin (13/2).

Heru mengatakan, becak adalah alat transportasi tradisional yang selalu identik dengan kota Yogyakarta. Tapi jika dimanfaatkan untuk tujuan tertentu dikhawatrikan akan menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Hal itu bisa dilihat dari adanya becak yang menggunakan mesin dan ulah dari pengemudi becak yang terkesan memaksa wisatawan untuk pergi ke kawasan tertentu demi keuntungan pribadi. Akibatnya wisatawan akan merasa tidak nyaman di Yogyakarta. Untuk mengatasi persoalan itu kerjasama yang sinergis antara Dinas Perhubungan, Dinas Pariwisata dan Pemda perlu ditingkatkan. Sebab selama ini penanganan yang dilakukan masih terkesan terputus-putus.

“Untuk mengantisipasi terjadinya persaingan yang tidak sehat akan lebih bijaksana jika becak bermotor tidak dioperasikan untuk penumpang. Disamping menimbulkan polusi, wisatawan akan merasa tidak nyaman. Sebab yang dibutuhkan oleh wisatawan adalah nuansa tradisional dan kenyamanan. Untuk itu sebaiknya tarif becak diseragamkan, meskipun begitu tidak boleh terlalu murah,” terang Heru.

Sementara itu Ketua Paguyuban Pasukan Becak Soboharsono (Pabesob) Suhendro menjelaskan, semua anggota Paguyuban Pasukan Becak Soboharsono (Pabesob) oleh pengurusnya diarahkan untuk mendukung dunia pariwisata Kota Yogya. Terutama keraton dan sekitarnya.

Meskipun resminya bukan pemandu wisata, namun mereka bisa memberi informasi seputar dunia wisata di Yogyakarta. Bahkan jika mereka dibutuhkan untuk mengantar ke obyek wisata luar kota, juga siap. Mereka menyadari tukang becak punya pengaruh bagi citra kota. Oleh karena itu, Suhendro menekankan kepada anggotanya untuk mengutamakan servis. Pelayanan yang baik akan mengangkat citra Kota Yogya sebagai tujuan wisata.

“Kami menekankan agar melayani tamu dengan sopan,” kata Suhendro yang didampingi Sekretaris Tugiman.

Ada 30 orang tukang becak yang mangkal di depan bekas Bioskup “Soboharsono”. Mereka bergabung dalam Paguyuban Pabesob sejak sekitar 20 tahun yang lalu. Menyadari keberadaan mereka ikut mendukung dunia pariwisata, ada diantara mereka yang bisa berbahasa Inggris. Untuk menjadi anggota Pabesob, harus mempunyai identitas jelas. Pabesob tidak mau menerima anggota yang tidak jelas asal-usulnya.

Disamping itu juga ada aturan-aturan yang harus ditaati anggota. Terutama tentang pelayanan terhadap tamu. Sedang pengawasannya mereka dengan cara saling mengawasi. Semua pengurusnya tukang becak, namun untuk pembina dan penasehat mengambil orang luar, yang dipandang bisa memberikan arahan.

Mengenai pemberdayaan becak, Hotel Novotel dan Santika Yogyakarta patut dijadikan contoh. Kedua hotel ternama di Yogyakata tersebut telah memayungi becak yang ada di lingkungan sekitar. Berawal dari ketidaksengajaan dengan alasan utama hanya ingin menggandeng yang becak yang ada di depan hotel. Telah membawa hasil yang luar biasa. Setelah dibekali penjelasan yang menumbuhkan sense of belonging dan hanya diberi seragam dan cat khusus bagi becak, mereka sangat menjaga brand image kedua hotel tersebut dengan sikap sopannya dan tidak pernah melakukan penipuan terhadap tamu hotel yang mereka bawa.

Regional Public Relation Manager Hotel Novotel Yogyakarta Erny Kusmastuti mengatakan hal tersebut muncul karena becak driver di Novotel telah masuk menjadi keluarga besar Novotel. Bahkan setiap ada acara yang menyangkut karyawan mereka pun diundang.

Diambil dari Kedaulatan Rakyat (www.kr.co.id)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home