Monday, March 13, 2006

Memimpikan Transportasi yang Berbudaya

KESEMRAWUTAN lalu-lintas di Yogyakarta khususnya dan Indonesia umumnya, membuat kita berandai-andai. Kapankah kita mampu menyelenggarakan sistem transportasi yang berbudaya, tertata, sopan, aman dan nyaman?


Semakin maju zaman ini bukannya semakin berbudaya masyarakatnya, tetapi semakin menjadikan manusia kian menunjukkan wajah aslinya sebagai orang yang sok berkuasa.

Memang untuk membangun transportasi yang berbudaya perlu dukungan kuat dari pemerintah dan masyarakat,serta semua pihak yang terkait. Sebagaimana direkomendasikan pada seminar ‘Sistem Transportasi Masa Depan Yogyakarta’, ada baiknya PT Kereta Api mulai memfokuskan diri pada upaya pengiriman cargo. Dengan begitu kalau KA ikut menangani cargo, jalan raya tidak akan dipenuhi oleh truk tronton. Dan ini berakibat juga bagi awetnya jalan raya.

Memang pantas didukung penegasan Kepala Dinas Perhubungan DIY, Ir Setyasa Hardjowisastro MSi, untuk menangani transporasi di Yogyakarta, memerlukan dukungan dan peran aktif berbagai pihak, baik dari eksekutif, legislatif, masyarakat maupun unsur pendidikan sehingga dapat terwujud dan terlaksana dengan baik.

Dengan kata lain perlu sinergi dan kerja sama yang baik, terutama menyangkut penerapan sistem manajemen transportasi karena transportasi tidak mengenal batas wilayah dan akan saling bersinggungan, selain mengingat letak kabupaten dan kota di Propinsi DIY yang relatif dekat.

Dan dari rencana pengembangan jalan di DIY terlihat skenario bahwa sistem transportasi di DIY diarahkan kepada pengembangan sistem pusat kegiatan. Rencana pengembangan jaringan jalan, rencana peningkatan fungsi jalan dan rencana pengembangan sistem angkutan massal.

Memang dalam kaitan ini perlu rencana jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Untuk jangka pendek diperlukan perubahan sistem yang sudah ada, yakni sistem setoran menjadi ‘buy the service’-pelayanan jasa. Dengan cara ini standar minimum pelayanan angkutan umum akan terjamin keandalannya. yaitu ketepatan jadwal dan trayek serta keamanannya. Memang diperlukan niat baik dan ‘legawa’nya para pengusaha bis kota. Atau kalau perlu pemerintah daerah yang mengkoordinasi pengusaha ini untuk bisa tertib. Oleh karena itu dibutuhkan keberanian mengubah pola transportasi kota dengan mengandalkan angkutan umumnya untuk menjadi penopang utama pergerakan masyarakat. Dan ini kalau bisa harus segera diwujudkan.

Sebab transportasi kota yang kacau membuat masyarakat enggan untuk menggunakannya. Dan mereka lebih menggantungkan pada kendaraan pribadi. Tetapi kalau transportasi kotanya nyaman, aman, dan tepat waktu, orang bakal berbondong-bondong menggunakan angkutan kota, yang dinilai lebih efektif, aman, ringan di kantong dan jelas sampai. Bahkan orang luar kota pun akan enak menggunakannya. Tetapi kalau angkutan kotanya semrawut, saling salib, saling kejar mengejar hanya demi setoran, dan gagahan-gagahan di jalan raya, maka kengerian yang muncul dan membuat masyarakat ogah untuk menggunakan transportasi kota.

Kehidupan kota amat tergantung juga dari transportasi kotanya.

Malahan apabila transportasi kota bisa diandalkan di waktu malam, bukan barang aneh kalau kehidupan malam di Yogyakarta ini juga bisa terwujud dan menggeliat. Tinggal bagaimana nawa itu dari pemerintah daerah. Kebutuhan masyarakat banyak juga perlu dipikirkan. Bukan waktunya lagi mementingkan kebutuhan sendiri sekarang ini.

Dan kalau transportasi kotanya bagus, masyarakat akan meninggalkan motor dan mobilnya di rumah dengan demikian juga mengurangi polusi udara di kota yang padat ini.

Semoga mimpi ini segera bisa terealisasi.

Diambil dari Kedaulatan Rakyat (www.kr.co.id)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home